PortalIndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Ikappim; Kritik Sosial Akademis

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ibnuasikin

avatar

Jumlah posting : 6
Join date : 07.06.08
Age : 31
Lokasi : Cairo

PostSubyek: Ikappim; Kritik Sosial Akademis   Thu Sep 04, 2008 11:53 pm

Ikappim; Kritik Sosial Akademis
Oleh : Ridhwan Ibnu Asikin*


Sekitar pertengahan tahun 2001 sampai pertengahan tahun 2003, bisa dibilang adalah tahunnya para alumni –yang kemudian disebut Ikappim- berhasil menempatkan kedudukannya sebagai seorang alumnus diranah lingkungan pesantren PERSIS 92 Majalengka untuk saat itu.

Kiprahnya sebagai seorang alumni ditambah dengan menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa adalah pijakan sosial jiwanya untuk membuktikan dirinya sebagai pribadi yang istimewa, mampu dibawa oleh para alumni dihadapan adik – adik kelasnya saat itu.

Dengan gayanya yang mahasiswa abis untuk ukuran saat itu, mampu menjadi nilai plus bagi mereka sebagai alumni. Ditambah dengan keintelektualannya yang entah seperti apa penulis harus mengungkapkannya, sedikitnya mampu mendoktrin adik kelasnya untuk bersikap yang tidak sewajarnya dalam berperilaku sebagai seorang santri.

Bagaimana tidak, seorang mahasiswa dengan keintelektualannya sebagai seorang pelajar saat itu, hanya mampu berdiri lantang didepan para calon intelektual yang sanggup dibodohinya. Pantas saja, yang dibodohinya terkagum – kagum melihat mereka berbicara seenaknya.

Berbicara seperti seorang cendikia sejati adalah gayanya. Yang jika penulis nilai untuk saat ini, mereka itu sebenarnya adalah tak lebih dari seorang alumni santri yang tidak lulus pesantren. Seakan-akan 7 tahun mereka menjadi santri hanya terkikis oleh gayanya berdiri sebagai mahasiswa yang tak jelas.

Yang penulis pahami saat itu, ketika masih melihat mereka bergaya didepan teman sekelas penulis dalam kegiatan PLDK adalah cara berpikir mereka yang masih seperti anak kecil. Entah apa yang ada dipikiran mereka saat itu, yang penulis amati adalah mereka berbicara dan berpikir yang tidak karuan. Kesana – kemari, tidak jelas apa yang disampaikan. Bahkan pernah pada satu hari di kegiatan tersebut, ada diantara mereka yang berbicara dengan cara berpikir liberal kepada adik-adik kelasnya, yang jelas – jelas belum pantas menjadi bahan pencernaan bagi seorang santri saat itu.

Sikap superior –sebagai seorang mahasiswa intelek- yang selalu dibawa-bawa olehnya, sejatinya tidak boleh ada pada ranah lingkungan santri saat itu. Sebab, dari sana muncul paradigma seakan akan mereka adalah yang terbaik dari cara berpikirnya. Padahal, jika dilihat lebih dari itu, tentu akan ada hal – hal lain yang bisa membuka sisi lain sifat mereka.

Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah sebaiknya jika para alumni berhadapan dengan adik – adik kelasnya, maka bawalah identitas bahwa dia adalah santri juga bukan seorang mahasiswa yang kerap kali berbuat dan berbicara seenaknya dihadapan adik – adik kelasnya.

Yang justru perlu jadi renungan adalah peran alumni dalam membentuk citra dirinya sebagai seorang alumnus sekaligus sebagai seorang mahasiswa adalah mampu mengayomi adik kelasnya untuk bisa berkiprah lebih dari dirinya. Bukan dengan cara menonjolkan kelebihan – kelebihan dirinya yang padahal dalam dirinya itu suatu yang diada-ada.

‘Ala kulli hal, penulis disini tidak ingin berpretensi sebagai ahli. Tapi penulis ingin mengajak bersama-sama kepada para alumni semua, ikappim khususnya. Agar bisa menjadikan dirinya sebagai insan akademis yang mampu menjadi tauladan bagi adik kelasnya. Wallahu a’lam bish showab.


* Mahasantri Universitas Al Azhar Kairo - Mesir
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Ikappim; Kritik Sosial Akademis
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» 'Pinterest' Si Jejaring Sosial Baru: Tren Sesaat kah?
» Budaya PUNK
» Pasangan yang Benar-benar Bahagia Justru Tak Pernah Pamer Hubungan di Media Sosial

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: Khazanah Ikappim :: Artikel-
Navigasi: